Mar 4, 2010 - Theology    Comments Off

Garis Besar Teologi Injil Lukas

INJIL LUKAS DAN TEOLOGINYA

INJIL LUKAS

Injil Lukas merupakan memiliki keunikan tersendiri dibanding dengan tiga Injil yang lain; Markus, Matius, dan Injil keempat—Injil Yohanes. Selain dari penulisnya yang bukan salah satu dari keduabelas murid Tuhan Yesus, juga Lukas menulis dua buku yaitu Injil Lukas dan kemudian dilanjutkan (sejarah gereja mula-mula, kurun waktu penulisan kedua suratnya) dalam buku yang kedua yaitu Kisah Para Rasul. kedua surat ini ditujukan kepada orang yang sama pula—Teofilus (Luk. 1:1-4; Kisah 1:1). Dari Lukas, seorang dokter yang menulis dengan studi literatur yang akademis dan ditujukan seorang pejabat pemerintahan Romawi.
Tujuan dari kedua surat ini adalah untuk meyakinkan Teofilus dan orang percaya lainnya tentang apa yang mereka dengar dari para rasul atau tentang Yesus itu adalah benar adanya—memperoleh pengertia yang benar akan iman Kristen. untuk menolong orang percaya, Lukas menapilkan Yesus secara khas sebaga sahabat orang-orang yang dianggap randah oleh masyarakat (Luk. 9:51-56; 10:25-37; 17:11-19). juga mengenai perhatian Yesus terhadap bangsa-bangsa lain yang sangat dibenci orang Yahudi seperti  Samaria (hal ini ditujukan dengan pemakaian istilah “orang Samaria” dalam beberapa pengajaran Yesus dan juga tentang kerinduan Yesus untuk berkunjung ke Samaria) dan Roma serta Yunani—terlihat juga dalam gaya penulisan Lukas dalam kedua suratnya, bahasa yang digunakan, dan beberapa adat istiadat yang bercorak Yunani.

TEOLOGI LUKAS

1. Doktrin Allah
Lukas sangat memperhatikan ajaran tentang Allah dan pekerjaan-Nya dalam suratnya. Hal  ini ditujukan dengan mengasosiasikan segala hal yang dilakukan Yesus dengan Allah. Setiap orang yang mengalamai mujizat yang dikerjakan Yesus kemudian memuliakan Allah (bukan pribadi Yesus). Lukas mengisahkan bahwa Allah telah melawat umat-Nya (peristiwa di Nain). Kemahakuasaan Allah ditampilakan oleh Lukas dalam kelahiran Yesus, dalam pelayanan-Nya, bahkan hingga hari Yesus naik ke Surga. Allah menyatakan diri-Nya dengan jelas dalam pribadi Yesus. Allah nyata dalam seluruh kehidupan dan karya Yesus. Yesus adalah Allah yang mengosongkan diri-Nya dan dian di antara kita dalam rupa seorang hamba.
Lukas dalam Injil Lukas, mengatakan bahwa Kerajaan Allah sesungguhnya “ada di antara kamu” sehingga dalam hal ini dapat dimengerti bahwa Lukas melukiskan Kerajaan Allah sebagai hal yang sifatnya rohani dan tidak kelihatan. Datangnya tiba-tiba tanpa tanda-tanda sebelumnya, namun dapat dijangkau oleh kita. Atau dengan kata lain dikatakan bahwa orang yang percaya sesungguhnya sudah ada dalam Kerajaan Allah—kemudia diwujudkan dengan kehadiran gereja di dunia. Karena konsep kerajaan Allah yang demikian, Lukas menyatakan bahwa Allah sesungguhnya tetap menyatakan diri-Nya dalam kehidupan orang percaya. Seluruh kesaksian hidup orang percaya menyatakan kehadiran Allah. Allah tatap berkuasa dalam kehidupan setiap orang percaya—kita dipanggil untuk bersaksi dan melayani Dia.
Allah yang demikian adalah Allah yang penuh rahmat dan belas kasihan sehingga Ia terus melawat kita. Allah pemelihara, Allah yang mengampuni, Allah yang memberikan anugerah (keselamatan, pengampunan, dll) dengan Cuma-Cuma. Bukti-bukti mengenai kasih Allah sangat banyak baik pada saat Yesus ada di antara orang-orang percaya maupun ketika setelah Yesus naik ke Surga—Allah tetap Allah yang Maha tinggi sekaligus Allah yang maha kasih dan maha murah (Transendensi dan imanensi Allah menjadi jelas).

2. Kristologi
Dalam Lukas, Yesus digambarkan sebagai seorang yang ramah dan menyenagkan, bahkan disebut sebagai “sahabat pemungut cukai dan orang berdosa” (7:34). Ia sering memanggil orang lain sebagai kawan. Menempatkan diri-Nya di tengah-tengah murid-murid-Nya sebagai pelayan. Pribadi Yesus yang demikian memiliki discipline rohani yang sangat baik; beribadah di rumah ibadah setiap hari Sabat, memiliki kehidupan doa yang teratur—hal-hal ini juga beberapa kali diajarkan oleh Yesus tentang kehidupan kerohanian yang baik di hadapan Tuhan. Bahkan Lukas mengisahkan tentang bagaimana keadaan Yesus pada saat Ia berdoa doa di taman Getsemani. (meneteskan darah).
Tentang pribadi Yesus, Lukas menyebutnya sebagai Anak Manusia. Untuk melihat sebutan ini, Lukas mengisahkannya pada masa-masa terakhhir Yesus bersama mmurid-murid-Nya (17:22). Dalam pengajaran Yesus tentang kedatangan Anak Manusia, juga tentang tujuan kedatangan Yesus ke dalam dunia. Keonsentrasi Lukas pada “Anak Manusia” dalam Injil Lukas sebanyak 25 kali. Selain sebagai Anak Manusia, Lukas juga menyebut Yesus sebagai Mesias atau Kristus banyak sekali dalam kitabnya. Hal ini Nampak pada peristiwa pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembabtis, pengakuan Petrus, dan dua kali Ia dicemooh orang dengan sebutan Kristus.
Sekalipun Lukas menekankan kemanusiaan Yesus, Lukas juga mengakui Yesus sebagai Tuhan. Sebutan ini dikutip oleh Lukas lebih dari 200 kali dalam kedua kitabnya. Yesus sebagai Tuhan sangat nyata dalam tulisan Lukas, dan bahkan sebelum lahirpun disebut Tuhan. Sebelum, sesudah kelahiran-Nya, karya-karya-Nya, pengajaran-Nya, hingga kematian dan kebagkitan-Nya, Yesus tetap sebagai Tuhan yang berkuasa. Hal ini hendak mengajarkan kepada orang percaya untuk taat dan percaya dan menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada pribadi Yesus sebagai Tuhan kita. Selain itu, apabila kita memanggil Yesus sebagai Tuhan, secara tidak langsung kita menempatkan diri kita sebagai hamba-Nya yang harus taat sepenuhnya. Kita dipanggil dan bahkan wajib untuk menjadikan-Nya Tuhan atas hidup kita dan membiarkan Dia berkuasa atas seluruh hidup kita termasuk segala harta benda dan masa depan kita. Inilah rahasia kebahagiaan Orang Kristen. Selain sebagai Tuhan, Yesus juga beberapa kali disebut sebagai Nabi, Guru/Rabi, Juruselamat, dan Raja.

3. Iman dan Keselamatan
Ada beberapa unsure yang ada dalam Injil Lukas yang membawa orang kepada keselamatan yaitu pertobatan dan iman/kepercayaan. Seruan pertobatan sudah ada pada saat Yohanes tampil di Galilea unutk mempersiapkan jalan bagi Tuhan (Yesus). Kemudian Yesus juga mengatakan tujuan kedatangan-Nya ke dalam dunia yaitu mencari orang berdosa supaya mereka bertobat (5:31-32). Dalam bagian ini, orang berdosa diibaratkan sebagai orang sakit yang membutuhkan dokter atau tabib. Tetapi bertobat adalah satu kali dan bersifat radikal, bukan seperti orang sakit yang sembuh dan sakit lagi, sembuh lagi secara berulang-ulang dan berkali-kali. Pertobatan yang radikal itu akan membawa sukacita yang besar di Sorga. Sehingga dengan pertobatan dan pengampunan dosa seseorang akan memperoleh keselamatan.
Pertobatan dan iman sangat ditekankan oleh Lukas. Beberapa kali Lukas mencatat ucapan Yesus yang mengatakan bahwa “imanmu telah menyelamatkan engkau” (5:20; 7:48,50; 8:48; 17:19; 18:42). Betapa pentingnya unsure iman bagi seseorang supaya penyakitnya disembuhkan dan dosanya diampuni. Tidak heran Yesus prihatin dan dengan tegas Ia menegur murid-murid-Nya pada peristiwa angina taufan. Di sini kita melihat bahwa iman bukan berarti membawa keselamatan atau pengampunan atau kesembuhan bagi seseorang, tapi iman membawa kita kepada penyerahan dan hidup bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Iman menolong orang percaya untuk terus-menerus percaya dan bersandar pada kekuatan dan anugerah Tuhan.
Keselamatan adalah anugerah yang berasal dari Allah yang digenapkan atas diri Yesus dan dikerjakan terus menerus oleh Roh Kudus. [Sumber keselamatan adalah Allah, Yesus bertindak dengan kuasa Roh Allah. Melalui iman; kepercayaan dan penyerahan diri kepada Yesus, keselamatan Allah mencapai manusia]. Manusia diberikan tanggung jawab untuk percaya dan diselamatkan kemudian meneruskan berita keselamatan dan memberitakan Injil kepada semua orang.

4. Penekanan yang lain
Dalam Injil Lukas, kita melihat perhatian khusus Yesus terhadap orang-orang “kelas dua” di kalangan orang Yahudi seperi orang catat, miskin, lumpuh dan kaum perrempuan. Dan bahkan dalam beberapa bagian, Lukas menuliskan bahwa merekalah yang akan diundang dalam perjamuan Kerajaan Allah, merekalah kaum yang berbahagia (14:13, 21; 6:20-23). Sesuatu yang tidak biasa di daerah Palestina dan bahkan merupakan orang-orang yang dijauhkan oleh Kaum Rohaniawan (Ahli Taurat dan Orang Farisi). Hal ini jauh lebih nyata pada peristiwa Yesus menyatakan diri-Nya ketika Ia membacakan kitab Yesaya “untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin…” (4:18). Di samping itu, juga ditekankan perlunya kesediaan untuk memberi harta benda kepada kaum miskin. Bahkan dalam beberapa pengajaeran-Nya, Yesus menyuruh orang kaya untuk menjual kekayaannya dan memberikannya kepada orang miskin. Hal ini dapat dihubungkan dengan bukti kepercayaan kita bahwa Tuhan berkuasa atas segala sesuatu yang kita miliki bahkan yang kita peroleh dengan “susah payah” seperti harta kekayaan.
Semua perhatian Yesus terhadap hal-hal yang tidak lazim di kalangan bangasa Israel membuat Lukas dapat menmukan esensi kehidupan. Termasuk di dalamnya hal kedudukan dalam masyarakat. Dalam Kisah 10:34; Lukas mencatat perkataan Petrus: “Sekarang aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang.” Lukas mengerti bagaimana mendengar seperti Yesus, melihat seperti Yesus—menidentifikasikan diri sebagaimana seorang pengikut Yesus.

Kesimpulan
Lukas adalah seorang yang terpelajar, dokter. Menjadi teman rekan pelayanan Paulus, seorang muris guru ternama di Yunani, Gamaliel. Menyajikan dengan studi literature dan catatan yang sangat ilmiah. Bahasa yang baik dan teratus dan sistematis. Menyajikan hal-hal yang sungguh-sungguh nyata secara controversial (sesuai dengan tujuan kedatangan Yesus).
Perhatiannya terhadap kehidupan doa Yesus sehingga beberapa teolog menyebutnya dengan The Gosple of Prayer, perhatiannya terhadap kaum kelas dua (orang miskin, kaum perempuan dan orang kafir) sehingga sering kali disebut “Injil Orang Miskin”. Lukas memahami secara benar maksud dan tujuan dari pengajaran Yesus.
Pokok-pokok teologi Lukas mengajarakan kita sebagai pengikut harus menepatkan diri pada “posisi Yesus”, memiliki mata Yesus, hati Yesus, dan sebagainya. Benar-benar mengidentifikasikan diri sebagai seorang pengikut Yesus—Nampak melalui buahnya.

Sumber:
Santoso, David Iman, Theologi Lukas, Intisari dan Aplikasinya, Malang: Literatur SAAT, 2006
Drewes, B.F., Satu Injil Tiga Pekabar, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006

Comments are closed.