Jan 1, 2012 - Phlisophy    Comments Off

Mengampuni Masa Lalu, Menggapai Masa Depan

Banyak pendapat orang tentang masa lalu; ada yang bilang masa lalu adalah kenangan, pelajaran, kepahitan, masa suram, dll,(anda bisa menambahkannya berdasarkan pengalaman anda). Begitu juga dengan masa depan, ada yang ada yang mengatakan bahwa masa depan adalah kesempatan, impian, harapan, anugerah, tantangan, sumber masalah, dll. (anda bisa menambahkannya berdasarkan pengalaman anda).
Tipe orang dalam menanggapi kedua masa tersebut biasanya disebut orang yang pesimis (aduh, masa depanku suram sekali, sekarang saja banyak masalah, apalagi nanti? pasti lebih banyak lagi), optimis (wah, masa depanku cerah sekali. saya bisa lewati masa lalu, berarti masa depan juga akan dihadapi dengan baik dan bahkan lebih baih dari sekarang.), ada juga yang realistis (yah, kita lihat saja nanti bagaimana.). bukan masalah bagaimana kita menganggapi masa lalu ataupun masa depan, masalahnya adalah menyikapi masa lalu dan masa depan.

Ketika seseorang merefleksikan hidupnya di hari kemarin dan hari ini dan menemukan kesalahan-kesalahan yang telah ia lakukan, akan menimbulkan persaan yang sangat kuat; entah itu membeci masa lalunya, melihatnya sebagai suatu kenyataan yang sudah dilewati, atau mengampuni masa lalunya dan bersiap merai masa depan.

Dengan demikian, mengapa kita perlu mengapuni masa lalu kita sehingga dapat meraih masa depan? Orang yang tidak masa lalunya penuh dengan kepahitan dan kegagalan dan tidak mau mengampuni masa lalunya, ia akan tetap tinggal dalam masa lalunya, dalam kepahitan dan kegagalan. Rasa pesimisti akan memuhi hati dan pikirannya sehingga membuka peluang kepada kegagalan-kegagalan dan kepahitan-kepahitan lain di masa depan. Oleh sebab itu, orang yang berjiwa besar berani mengampuni masa lalunya (bukan melupakan) dan dengan penuh optimisme bahwa ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama di masa yang akan datang. Bukan berarti bahwa mengampuni dapat mengubah masa lalu, tetapi seperti yang dikatakan oleh Paul Boese bahwa “Forgiveness does not change the past, but it does enlarge the future.” Jadi orang yang tidak mengampuni masa lalunya, tidak akan mampu meraih masa depan dan sebaliknya orang yang mengampuni masa lalunya akan meraih masa depan yang penuh dengan harapan. Seharusnya bukan masa depan yang ditakutkan melainkan masa lalu yang tidak diampuni. Ampunilah masa lalumu dan raihlah masa depanmu.

Catatan:

Masa lalu adalah sejarah bersama-sama dengan peziarah-peziarah yang mengukir berbagai peristiwa dan pelajaran dalam sejarah. sedangkan masa sekarang adalah masa dimana kita dapat mentransmisikan sejarah bersama para peziarahnya [atau dapat disebut juga mendaur ulang masa lalu untuk membaharuinya] untuk menjadi sebuah pembelajaran dan bahan mentah bagi generasi masa kini untuk menciptakan sejarah di masa depan karena mereka adalah peziarah-peziarahnya. Konfusius pernah mengatakan bahwa; Pelajarilah masa lalu, jika ingin meramalkan masa yang akan datang. Sekalipun demikian, masa lalu tidak sepenuhnya menjadi landasan untuk merencanakan masa depan.

Selamat memasuki tahun 2012.

Tuhan menyertaimu senantiasa untuk memberkatimu.

Salam,

Oct 7, 2011 - Phlisophy    Comments Off

Kedatangan Yesus ke Indonesia

1. Pendahuluan
Dalam pergulatan pemikiran Kristen di Indonesia, seringnya kita berhadapan dengan hasil pemikiran Barat yang berisi serangkaian solusi berpikir yang telah melewati pergumulan dalam zaman, budaya, sosial, politik yang ada di konteks kehidupan Barat. Dengan demikian, secara tidak sadar kita terindoktrinasi oleh teologi Barat. Dengan demikian, melampaui atau bahkan tidak menyentuh sama sekali ranah rasio di Indonesia.
Kesenjangan yang begitu besar antara teologi Barat dengan Asia, sehingga dengan sehingga jurang antara teologi Barat dan Indonesia tidak terjembatani. Timbullah kontekstualisasi yang terkadang “terpaksa” dilakukan demikian kelancaran aktifitas bergereja yang dimotori oleh teologi. Sampai pada titik ini, kita dapat melihal ada satu gerakkan pemerataan atau dapat juga disebut suatu pergerakkan uniformalities movement dalam berbagai bidang terutama teologi yakni hasil perumusan teologi barat dimasukkan ke dalam konteks Indonesia yang sangat beragam. Artinya jembatan yang dibangun untuk menghubungkan teologi barat dalam konteks berpikir di Indonesia bukan hanya dipaksakkan tetapi justru dapat juga membahayakan. [Membahayakan dalam arti tidak dapat memahami konteks berpikir di Indonesia sehingga membawanya kepada fanatisme yang menyebabkan lahirnya globalisasi cara berpikir. Keterbukaan yang tanpa arah menyebabkan ketiadaan pijakkan berpikir.]
Kekristenan sering kali menjadi polemik bila diperhadapkan dengan budaya. Hal ini berangkat dari keunikan pribadi Yesus yang adalah Allah yang kudus dan budaya adalah hasil ciptaan manusia yang berdosa. Belum lagi bila dimasukan dalam sistem kemasyarakatan yang terjadi tindak ketidakadilan sosial (termasuk di dalamnya tentang human traficking), baik dalam sistem maupun kolektif. Belum lagi menyangkut hal yang pragmatis, seperti kemiskinan, kebodohan, perbedaan ras, warna kulit hingga diskriminasi tingkat intelektual. Yesus hanya datang sebagai tamu yang singgah sebentar kemudian pergi lagi, sehingga yang tertinggal hanyalah “sebuah ingatan tentang Yesus” dalam praktek kehidupan nyata tidak menunjukkan bahwa Yesus hadir, pernah hadir, iya. Ini masih dalam ranah pragmatis belum masuk lebih dalam ke ruang tangisan moral. Ini pergumulan transkulturasi Yesus yang eksistensial.
Peng-wajah-an Yesus dalam rupa Yahudi ataupun Barat sendiri merupakan problematika tersendiri. Masuk ke dalam pluriform budaya Indonesia, sosok Yesus menjadi ancaman. Perurusan sistem birokrasi yang sistemnya bertentangan dengan “falsafah hidup” Yesus menjadi sebuah oposisi. Sikap Yesus yang berpihak pada kaum termarginalkan menjadi demonstran yang menyerang tak henti terus menyerang.
Dalam kehidupan ragawi-Nya di kalangan kebudayaan Yahudi, Yesus adalah “seorang pemberontak” terhadap budaya dan sistem birokrasi yang memarginalkan kelompok tertentu. Musuh pemerintah dan pemimpin-pemimpin agama. Transformator yang radikal sekaligus meruntuhkan semua kebiasaan yang telah dipelihara secara turun-temurun. Mengubah tatanan sosial yang berpihak pada kalangan tertentu dan pemerintahan Yahudi yang zalim, dan bahkan terhadap “Allah orang Yahudi (yang diberitakan oleh pemimpin-pemimpin agama Yahudi)”, juga merambat sampai kepada pemerintahan Romawi. Dalam suasana dan aktifitas Yesus yang demikian, diberitakan di mana-mana sebagai bentuk stimulasi untuk mentransformasi hierarki dalam masyarakat dalam budaya lain di mana kabar tentang Yesus (Injil) diberitakan, tak terkecuali di Indonesia.

2. Apa yang orang Indonesia pikirkan tentang Yesus?
Gereja seharusnya menjadi representasi Yesus di bumi pertiwi karena Yesus belum pernah datang ke Indonesia. Orang Indonesia mengetahui tentang Yesus hanya sejak ekspansi Barat menerobos masuk dengan tiga tujuan utama; Gold, Glory, and Gospel. Karena Yesus ada pada bagian terakhir sehingga yang terdengar dan teringat hingga saat ini lebih kepada kekejaman kolonialisme karena gold, kebrutalan karena glory. Yesus “diwajahi” penindasan terhadap berbagai aspek kehidupan di Indonesia yang pluriform; dalam suku, budaya, bahasa, agama, dll. Kedatangan “Yesus” ke Indonesia secara kasar mau mengubah semua itu ke dalam satu bentuk, Barat, dalam hal pemikiran “liberalisasi” teologi Kristen. Apakah benar demikian?
Sekarang pada umumnya Gereja menyuarakan Yesus sebagaimana diperkenalkan oleh gelombang ekspansi kekristenan pada 700 an tahun lalu. Sebagian di antaranya telah mengalami “perjumpaan” dengan Yesus secara pribadi sehingga memberitakan Yesus yang mereka kenal. Akhirnya, sampai pada satu pemahaman yang sedikit berbeda dengan yang sebelumnya bahwa ternyata Yesus yang sesungguhnya memiliki tujuan yang melampaui itu, ialah bukan hanya merubah pluriform yang ada menjadi uniform, tetapi membenahinya sehingga dalam pluriform tersebut ada keharmonisa. [Hal ini bukan berarti Yesus ‘sejarah’ setuju dengan semua bentuk budaya, tetapi membenahinya sehingga tidak menetang Dia.]
Yang hendak disajikan oleh Yesus jauh melebihi peguyuban Kristen yang telah merajalela berabad-abad. Suatu perubabahan paradigma yang baru yaitu kesadaran akan makna kehidupan melalui Khotbah di Bukit. Maknanya mambawa kepada pembaharuan hidup yang sesungguhnya sebagaimana dalam kultur yang mendominasi di Indonesia, pertasnian, memberikan pemahaman bahwa tanaman hanya tumbuh sekali dan kemudian kembali ke tanah. Jika ia bermanfaat, akan tetap berguna dan bahka menjadi kebanggaan, tetapi jika tidak, akan dibakar, menjadi debu dan kembali ke tanah. Sekali mekar dan kemudian kembali ke asal. Jadi makna hidup yang melekat pada pikiran orang Indonesia adalah hidup hanya sekali, jika dimanfaatkan, nama akan tertinggal sekalipun jasad telah kembali menjadi debu. Angan akan kebahagiaan kekal merupakan uthopia dan bukanlah suatu hal yang gampang karena harus melewati ujian yang sedemikian berat—melintasi jembatan yang terbuat dari 1/7 dari 1 helai rambut (pandangan kaum muslim pada umumnya yang mendominasi pemikiran tentang kekekalan).
Pemahaman lain tentang kekristenan yang ada pada mulanya adalah satu untuk bersama dalam hubungan keluarga. Ayah selamat, istri anak juga nunut. Yesus yang sebenarnya datang untuk menyelamatkan seorang demi seorang. Ini menunjukan personal touch yang tinggi. Pemahaman ini bisa beralih kepada eksistensialisme, namun perlu disadari bahwa eksistensialisme selalu dibutuhkan selama bergumul dengan hal-hal materi.
Yesus ada di kebun/ladang, ada di warung, ada di sungai, ada di empang, ada di sawah, ada di persimpangan jalan, di kedai-kedai kopi bersama (dan mendengarkan) mereka yang sedang berkumpul dan berbincang-bincang di sana. Sebuah dialektika terjadi. Dualisme antara roh dan materi menjadi topik yang menarik. Berlandaskan pengetahuan Yesus yang telah melewati proses “filterisasi (inside and outside filter)” yang panjang. Mereka memperbincangkan-Nya dengan santai. Yesus yang mendarat di Nazaret, masuk ke dalam pemikiran yang diwariskan oleh neo-platonis dan stoaisme, berlanjut pada pemikiran teologi barat hingga akhirnya sampai ke Indonesia bersama serdadu-serdadu, pasukan ekspansi sosbudpolag. Akhirnya tersisa Yesus yang 100% Allah dan 100% manusia. Secara esensi dan praksis sudah terkikis. Yesus yang datang dengan amanah pembebasan, kasih, dan kesamaan, telah diputarbalikan menjadi konsumsi budaya para kapitalis, bangsawan, rohaniawan, dan kaum intelektual. Jika demikian, pertanyaannya adalah; sebenarnya Yesus itu siapa? Apa yang Dia inginkan untuk terjadi di Indonesia? Jawaban terhadap kedua pertanyaan ini membawa kepada pemahaman Yesus-isasi di Indonesia, gambaran yang mencapai Yesus yang perhan hadir dalam sejarah manusia.

3. Siapakah Yesus yang sebenarnya?
Sesungguh melalui Gereja (representasi Yesus di dunia) melalui teologi dapat menjawab pertanyaan ini baik secara filosofis maupun praksis. Namun, sebagaimana diketahui bahwa baik teologi maupun praksisnya merupakan hasil pergumulan orang lain di negerinya dengan sosialita-kulturalnya tersendiri yang jauh berbeda dengan situasi sosial-budaya kita.
Kita perlu kembali menelusuri jejak Yesus dalam sejarah manusia. Mulai dari tempat pendaratan-Nya hingga keberangkatan-Nya. Rupanya Yesus tidak tertarik dengan para bangsawan, kapitalis, politikus, dan bahkan dengan pemimpin-pemimpin agama. Ia meniti karir-Nya dari kandang domba sampai berakhir di salib. Pengikut-Nya adalah para nelayan, para gembala (mungkin gembala upahan), para perempuan, dan bahkan orang asing (Samaria) menjadikan-Nya bukan sebagai orang parlente ataupun ternama. Ia bahkan mengecam semua golongan kelas atas (Mat. 23:13-30).
Secara teologi dapat dijelaskan bahwa Yesus memiliki natur Godness and Lordness. Ke-Allah-an (Godness) berkait erat dengan Trinitas Allah, transendesi dan kemahakuasaan dan kekkalan-Nya, sedangkan ke-Tuhan-an (Lordness) adalah gambaran-Nya sebagai manusia yang adalah tuan atas segala sesuatu yang ada. Dalam inkarnasi-Nya (Fil. 2:6-11), Alkitab membuktikan kepada kita bahwa Ia memiliki kedua natur itu. Apa relevansinya bagi kita? Yesus yang adalah Allah menjadi manusia. Tetapi kesaksian Alkitab memberi sebuah kesaksian yang nyata bahwa proses “berubah rupa” tersebut bukanlah untuk tujuan yang temporal dan tidak seperti yang umumnya terjadi dalam mitos Yunani, tetapi dengan satu tujuan yaitu adalah kesempatan kekidupan yang kedua, kehidupan kekal (laksana tanaman yang mekar kembali untuk kedua kalinya dalam analogi di atas).
Kesempatan tersebut bukanlah sekedar untuk hidup yang kedua kali tetapi berbicara mengenai pembaharuan seluruh aspek kehidupan manusia. Pengaharapan bagi kaum yang termarginalkan membawa kita untuk memikirkan apakah kebutuhan jawaban bagi pergumulan kita dapat menghadirlan Yesus dengan tujuan-Nya yang ‘asli’ dalam sikon kita, ya! Dalam proklamasi Yesus (Lukas 4:18-19) bahwa Ia datang membawa pembaharuan empat rangkap; pembaharuan hati, pembaharuan pikiran, pembaharuan perbuatan, dan pembaharuan spiritual—pembebasan, kasih, harga diri, kesamaan. Keempat hal ini sebenarnya dapat mewakili seluruh pergumulan kita.

4. Apa yang Yesus inginkan lakukan di Indoneia?
Pembaharuan yang dikerjakan Yesus dalam sejarah menjadi amanah yang penting dan utama yang harus menyertai berita tentang Yesus kemanapun dan dimanapun berita itu disampaikan, termasuk di Indonesia. Kehadiran Yesus di antara kita untuk menebus dosa, tidak dengan serta merta membuat manusia sempurna tanpa cela: baik tokoh Perjanjian Lama maupun Petrus dan kawan-kawannya jelas bukan orang yang dari sudut kemanusiaan sempurna. Sebaliknya iman kita justru mengagumi cinta Allah yang sudi datang dan menyatukan Diri-Nya dengan kita, dalam kepapaan kita. Dalam pada itu kepada kita diwahyukan bahwa kesetaraan antara umat manusia tidak hanya karena kita memiliki jenis kemanusiaan yang sama, melainkan karena kita adalah ciptaan Allah dan diangkat menjadi anak-anak Allah berkat Yesus, bahkan menjadi tanda dan sarana karya-Nya.
Itulah dasar terdalam perjuangan membela kaum marginal yang miskin, bodoh, buta aksara, ketertekanan, kesetaraan gender dan kesetaraan antara semua bangsa serta kebebasan demokratis tanpa diskriminasi apa pun. Dengan demikian, iman ini amat relevan bagi sumbangsih kita kepada manusia dan rakyat Indonesia. Tantangannya adalah, bagaimana kita dapat menjalankan evangelisasi sedemikian sehingga orang menerimanya tanpa prasangka, yang dapat muncul apabila etiket Kristiani dititipkan dalam perjuangan kita?
Secara garis besar, Yesus ingikan pembaharuan terjadi di Indonesia. Permabaharuan seperti yang diharapkan oleh orang (Kristen) Indonesia. Pembaharuan untuk beberapa hal:
1. Pembaharuan hati—berbicara tentang moral, tingkah laku yang masa bodoh terhadap situasi sosial yang ada dan sekaligus tentang apa yang seharusnya dilakukan bagi sesama manusia. Perlakuan nyata bagi mereka yang terpinggirkan. Lebih dari itu mendorong kepada Missio Dei yang holistik.
2. Pembaharuan pikiran—dibebaskan dari ketidaksadaran akan keadaan kita yang terpinggirkan karena dosa, sistem birokrasi, maupun kolektif dilakukan seraca langsung oleh kapitalis. Menyadari bahwa kita sama berharganya, kemiskinan dan kebodohan ataupun tekanan tidak menghilangkan konrat manusia-wi kita.
3. Pembaharuan perbuatan—lebih nyata kepada bukan hanya sikap tetapi perbutan “seperti” yang Yesus kerjakan dalam sejarah kehidupan-Nya di dunia. “Melawan” tantan sosial yang ada untuk merangkul dan memberikan penghargaan kepada mereka yang tersisih.
4. Pembaharuan spiritual—hal berbicara tentang pemabaruan sisi “ilahi” kita sebagai gambar dan rupa Allah yang telah rusak oleh dosa diperbaharui kembali. Bukan hanya status sebagai orang yang dibaharui tetapi juga tentang jaminan untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah yang kekal itu. Kehidupan kedua yang dimaksud di atas.
Lalu apa yang terjadi dengan budaya dan tradisi yang telah mendarah daging? Pembaharuan terhadap empat hal diatas akan memberikan inside yang baru, yang kemudian hidup menjadi sebuah pandangan hidup. Pandangan hidup inilah yang kemudian bangkit menjadi hasrat dan sikap terhadap budaya dan sistem sosial yang ada.

5. Kesimpulan
Kalaupun hal tersebut di atas hanya merupakan gambaran garis besar mengenai kedatangan Yesus di Indonesia, namun sekiranya menjadi stimulus baru bagi kita untuk melihat ke dalam kebutuhan kita yang sesungguhnya akan Yesus. Indonesia membutuhkan Yesus yang hadir dan berkarya dalam sejarah, bukan seperti konsep teologi dan spiritualitas yang dibangun oleh filsafat dan teologi Barat. Mengingat perbedaan kultur dan peradaban sehingga kebutuhan dan pergumulannya jauh berbeda. Yesus yang anti perbedaan, anti penindasan (sistem dan kolektif), anti egosentris, dsb yang dibutuhkan di Indonesia—itulah gambaran yang utuh tentang Yesus ber-Godness and Loerdness—secara teologis-praksis.

JESUS

Sep 27, 2011 - Theology    Comments Off

Supremasi Alkitab

Supremasi Alkitab: Inspirasi Verbal dan Ineransi Alkitab
Oleh Samuel Lassa
________________________________________
Alkitab sering dan bahkan sampai dengan saat ini menjadi problematika yang klasik dalam kekristenan karena pernyataan yang mengatakan bahwa Alkitab adalah firman Allah. Masalah ini timbul sebagai reaksi atas persoalan dogmatis yang seakan-akan memenjarakan pemikiran umat untuk bertanya: mengapa Alkitab disebut Firman Allah? Padalah Alkitab hadir dalam proses sejarah yang berarti bahwa Alkitab adalah karya manusia yang berdosa sehingga berimplikasi terhadap ketidaksempurnaan yang bisa terdapat dalam Alkitab. Maka, dengan sendirinya Alkitab tidak layak disebut Firman Allah karena mengandung kesalahan atau jauh dari kesempurnaan dalam standar Allah. Beberapa pertanyaan lain yang sering ditujukan kepada Alkitab seperti: apakah Alkitab berasal dari Allah? Bagaimana Alkitab ditulis? Apakah Alkitab bisa salah? Dan mengapa kita harus mengandalkan Alkitab?
Penelaahan yang bisa dilakukan untuk melihat kembali Alkitab sebagai hasil karya manusia yang berdosa [yang berpeluang kepada ketidaksempurnaan dalam Alkitab] dapat dilakukan melalui dua hal penting yaitu inspirasi dan ineransi Alkitab. Kedua istilah ini harus digunakan secara runtut dan koheren karena keduanya saling terkait satu dengan yang lainnya. Ketika kita memahami apa dan bagaimana inpirasi itu, dengan sendiri kita dapat memahami ineransi Alkitab. Artinya jika kita memahami bagai mana Alkitab itu diilhamkan, kita akan melihat bahwa tidak bisa salah atau benar adalah Firman Allah. Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut termaktub dalam dua istilah dalam sejarah lahirnya Alkitab, inspirasi Alkitab dan inspirasi Alkitab.
A. Inspirasi Alkitab________________________________________
Kata “inspirasi” ini memiliki makna khusus dalam term ini karena diambil dari istilah Alkitab dalam bahasa Yunani theopneustos (1 Tim.3:15-16) yang berarti dihembuskan Allah atau secara teologis dapat juga disebut diverbalkan Allah—verbal plenary. Oleh sebab itu pada umumnya, kata inspirasi Alkitab dimengerti sebagai pimpinan Roh Kudus atas para penulis Alkitab. Artinya ketika Alkitab ditulis, itu semua merupakan hasil karya Roh Kudus, sehingga meskipun Alkitab ditulis oleh kurang lebih 40 penulis yang berbeda dengan latar belakang profesi, lokasi, situasi sosial politik dan budaya yang berbeda-beda dalam kurun waktu lebih dari 1500 tahun. Namun hasilnya terlihat begitu menakjubkan, adanya suatu kesatuang yang utuh dan harminis nampak seperti ditulis oleh satu orang saja. Oleh sebab itu ispirasi biasanya didefinisikan sebagai sustu pengaruh supranatural Roh Kudus yang menggerakkan para penulis Alkitab dari nyata bahwa Alkitab berasal dari Allah, memiliki otoritas, tanpa salah, dan kekal. Ini adalah nilai-nilai ilahi. Jadi keutuhan yang menakjubkan dari Alkitab menjadi jelas bahwa itu adalah karya Roh Kudus.
Supremasi Alkitab datang dari Allah sendiri yang telah “menafaskan” Alkitab tersebut sehingga yang tanpa salah adalah tulisan dalam Alkitab, pada naskah aslinya, bukan orang yang menulis. Allah yang menjadi sumber segala tulisan dalam Alkitab. Sekalipun Alkitab ditulis oleh manusia, tidak dihasilkan oleh keinginan atau bukan hasil dari manusia (person) yang menulis tersebut tetapi atas dorongan Roh Kudus, mereka berbicara atas nama Allah (2 Pet. 1:21). Sekalipun dalam Alkitab terdapat juga unsur atau aspek manusia seperti gaya penulisan, pengalaman pribadi yang berkaitan, dan bahkan gaya bahasa juga berbeda, sudut pandang dan aspek lainnya, tetapi Allah dalam Roh Kudus mengawasi mereka sebagai hamba Allah yang hidup dan aktif.
Sekalipun demikian, tidak sedikit orang yang pemahaman yang keliru tentang inspirasi Alkitab. Ada beberapa istilah seperti inspirasi natural yang meniadakan unsur supranatural Roh Kudus dalam penulisan Alkitab, iluminasi spiritual, inspirasi parsial atau dinamis yang membedakan isi Alkitab dalam dua bagian, ada yang diilhamkan seperti hal-hal praktis yang berkaitan dengan iman sedangkan, yang berhubungan dengan sejarah tidak atau bisa salah. Pandangan lain yang keliru adalah inspirasi konseptual yang mengatakan bahwa Allah hanya mengispirasikan konsepnya saja sedangkan kata-kata dalam Alkitab adalah hasil dakehendak penulis tanpa dikontrol oleh Allah. Kebalikan dari teori ini, ada yang mengatakan bahwa penulis Alkitab hanya sekedar mesin tulis dimana setiap kata dan titik koma diucapkan oleh Allah atau didiktekan.
Sebagai respon atas pandangan-pandangan tersebut, Alkitab diteguhkan oleh Yesus sendiri sebagai firman yang hidup bahwa inspirasi Alkitab dilakukan secara menyeluruh sehingga tidak satu huruf pun yang akan berlalu atau tidak boleh dihilangkan sampai semuanya tergenapi [dalam Tuhan Yesus Kristus] (Mat. 5:17-18). Pernyataan ini merujuk kepada PL dimana huruf terkecil dalam bahasa Ibrani (yodh). Sedangkan dalam PB, Yesus Kristus, Firman yang hidup (Yoh. 1:1) itu sekaligus menjadi sumber inspirasi dan dalam penulisannya Roh Kudus terus bekerja sehingga pembuatan PB dalam kurun waktu 100 tahun tetap mejadi satu keutuhan. Paulus dalam semua tulisannya menggunakan kata Kitab Suci yang keseluruhannya diilhamkan oleh Allah tidak hanya merujuk kepada PL tetapi juga PB, semuanya bukan hasil karya manusia biasa tetapi yang ektra ordinary karena Roh Kudus berkarya di dalamnya. Kesaksian Yesus sendiri menjadi peneguhan Allah secara langsung terhadap seluruh Alkitab termasuk di dalamnya inspirasi verbal baik melalui Yesus sendiri maupun dalam kebiasaan bercerita masyarakan Yahudi.
B. Ineransi Alkitab________________________________________
Dari penjabaran tersebut di atas mengantar kita memahami apakah Alkitab bisa salah, mengandung kesalahan. Kita telah melihat bahwa ke-ada-an Alkitab bukan karena hasil karya manusia semata tetapi keseluruhannya adalah karya Roh Kudus melalui para penulis. Hal ini berarti bahwa otoritas tertinggi adalah Allah. Jika Allah yang bekerja dalam pembuatan Alkitab, Alkitab berkuasa dan tidak mengandung kesalahan sedikitpun. Namun dengan demikian, untuk alasan perumusan masalah dalam pertentangan akan ketidakbersalahan Alkitab, kita perlu menjabarkan bagian ini secara khusus untuk dapat memahaminya secara utuh.
Kata ineransi (inerrant) yang dalam arti sederhana tidak ada kesalahan. Namun dalam istilah teologis, tidak sesederhana itu. Kata ineransi dapat diartikan bahwa Alkitab memiliki kualitas bebas dari salah, kemungkinan untuk kesalahan, dan tidak dapat salah baik secara akademis, historis maupun spiritual. Untuk lebih jelas dapat dipahami melalui sebuah silogisme sederhana yang menacu pada topik sebelumnya bahwa Alkitab berasal dari Allah.
Premis 1: “Allah adalah benar.”
Premis 2: “Alkitab berasal (dinafaskan/diilhamkan) dari Allah.”
Silogisme: : Maka Alkitab adalah benar [karena diinspirasikan oleh Allah yang benar].
Sekalipun demikian, ineransi tidak menuntut kekauan bukan berarti kompromi terhadap kritik-kritik yang meragukan Alkitab karena Alkitab tidak bercerita tentang kebenaran melainkan kebenaran dapat dan termasuk proses penulisan Alkitab sepanjang masa tidak saling kontradiksi. Ineransi selalu merujuk kepada manuskrip yang asli yang berarti bahwa pada waktu fakta diketahui, Alkitab dalam tulisan aslinya, apabila diinterpretasikan dengan benar akan terlihat sepenuhnya benar dalam setiap pengajarannya yang berhubungan dengan segala aspek yang termaktub dalam seluruh aspek kehidupan manusia.
Dari silogisme di atas, maka segala kritik yang meragukan kewibawaan Alkitab sesungguh sekaligus menjadi keraguan secara langsung terhadap natur Allah. Hal ini bukan pembelaan skeptis tetapi sebuah koherensi yang runtut dalam keseluruhan Alkitab. Dengan demikian, ineransi Alkitab dapat dimengerti bahwa Alkitab benar dalam keselruhan dan dalam semua bagian, benar secara rohani, historis dan akademis, secara moral, maksud dan peneguhan tidak bisa salah. Allah berbicara kepada manusia dalam bahasa Alkitab (bisa disebut bahasa manusia) yang sepenuhnya adalah penyataan Allah sehingga tidak dapat dipertentangkan (secara umum pertentangan dalam iman dan penalaran).
Ketidak-kakuan dalam ineransi Alkitab dapat dilihat dalam beberapa hal bahwa ineransi mengijinkan adanya keragaman dalam gaya bahasa, keragaman rincian dalam menjelaskan peristiwa yang sama, untuk tidak menggunakan tata bahasa yang standar, ayat-ayat problematik. Ineransi juga tidak menuntut laoran kata demi kata dari suatu peristiwa dan juga tidak menuntut catatan itu mengajarkan kesalahan atau kontradiksi. Jadi, otoritas Alkitab tidak kurang dari otoritas Yesus Kristus sendiri karena Ia sendiri yang telah meneguhkan pengilhaman PL dan menyajikan dan menjanjikan PB. Kesaksian Yesus dan para rasul bersifat inerrant pada apa yang diajarkan. Alkitab yang ada saat ini adalah Firman Tuhan. Ineransi menjadi doktrin yang penting apabila dimengerti dengan benar. Alkitab berbicara secara akurat sesuai dengan kebenaran dalam semua penyataannya; baik itu hal teologis, historis, geografis dan geologis.
Sekalipun demikian, tidak menutup kemungkinan adanya kritik terhadap teori ineransi Alkitab ini. Mengenai kebenaran dalam Alkitab, Erantis menyimpulkan bahwa kesalahan-kesalahan dapat mengajarkan kebenaran. Hal ini tidak beralasan karena mereka mencampuradukan hal-hal kronologis dengan hal teologis. Dari pernyataan tersebut, muncul pernyataan bahwa apabila Alkitab tidak dapat dipercaya dalam hal kronologis hiistoris, Alkitab juga tidak dapat dipercaya dalam hal kebenaran akan berita keselamatannya. Hal ini sama dengan keraguan yang ditujukan terhadap karakter Allah berkaitan dengan problem kejahatan.
C. Kesimpulan ________________________________________
Kesimpulan yang dapat diambil dari penjabaran singkat mengenai inspirasi dan ineransi Alkitab tersebut diatas, ada beberapa term yang dapat dimasukan dalam sebuah silogisme ganda berikut:
Premis 1 : “Allah adalah benar.”
Premis 2 : “Yesus, Firman Allah yang hidup adalah Allah, tidak berdosa/salah.”
Premis 3 : “Alkitab berasal (dinafaskan/diilhamkan) dari Allah.”
Kesimpulan : “Jadi, Alkitab adalah Firman Allah yang tanpa salah karena diinspirasikan oleh Allah yang benar, dan diteguhkan oleh Yesus, Firman Allah yang hidup yang tidak berdosa.”
Alkitab telah terbukti secara historis tanpa salah selama lebih dari 3500 tahun sejak pembuatannya hingga hari ini, tidak ada satu keraguanpun yang ditujukan kepada supremasi Alkitab yang bertahan selama itu. Tidak ada karya manusia yang bertahan lebih dari dua abad, semuanya mengalami permaharuan. Itu berarti bahwa Alkitab bukan karya manusia tetapi Allah, yang kekal. Akhirnya, ‘Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2Ti 3:16)”. Jangan mempertanyakan otoritas Alkitab karena dengan demikian kita mempertanyakan keberadaan Allah.

Sumber Pustaka:________________________________________
Enns, Paul, The Moody Handbook of Theology, terj., Malang: Literatur SAAT, 2010
Bruggen, Jacob van, Siapa yang Membuat Alkita?, Surabaya: Penerbit Momentum, 2010
Geisler, Norman, dan Ron Brooks, Ketika Alkitab Dipertanyakan, terj., Yogyakarta: Yayasan Andi, 2010

Oct 25, 2010 - Theology    18 Comments

Soteorologi Yakobus

PENDAHULUAN

    Dalam teologi Kristen, ajaran yang paling menonjol adalah ajaran mengenai konsep keselamatan—Soteorologi. Dalam konsep ini diketahui bahwa  keselamatan hanya diperoleh dari iman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Anugerah semata-mata—sama sekali tidak ada campur tangan manusia untuk memperoleh keselamatan itu. Termasuk di dalamnya, berbuat baik merupakan respon atas anugerah keselamatan yang telah diperoleh bukan upaya untuk memperoleh keselamtan.  Konsep ini merupakan salah satu konsep yang paling menonjol dan paling penting dan mendasar  yang membuat orang Kristen berbeda dari kepercayaan dalam agama yang lain.

    Namun, dalam Alkitab, khususnya dalam Surat Yakobus, ada satu pernyataan yang dapat dikatakan paradoks dengan doktrin yang ada. Karena dalam kitab ini, perbuatan baik merupakan hal yang sangat ditekankan Yakobus untuk memperoleh keselamatan. Misalnya dalam pasal 2:14  Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Dalam pertanyaan ini dapat dimengerti bahwa seolah-olah perbuatan jauh lebih penting atau merupakan hal yang utama dalam upaya memperoleh keselamatan.

    Yang menjadi persoalannya adalah apakah yang dimaksudkan Yakobus dalam bagian ini adalah perbuatan baik itu yang menyelamatkan dan bukan iman? Jika benar demikian, bagaimana dengan iman? Apakah karya keselamatan yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus kurang sempurna atau bahkan tidak berguna? Pertanyaan-pertanyaan ini yang menarik perhatian penulis untuk melakukan studi terhadap kitab ini dengan beberapa tools untuk menemukan maksud Yakobus dalam kitabnya.

    LATAR BELAKANG SURAT YAKOBUS

    Surat Yakobus, pada umumnya diakui oleh para teolog dan arkeolog bahwa penulisnya adalah Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus (1:1), saudara Tuhan Yesus (Mat 13:55; Mr 6:3; Luk 24:10; Gal 1:19), Pemimpin gereja di Yerusalem ( Kis 12:17; dalam Kis 15:1-41; 21:18; Gal 2:9,12), yang memberikan pengakuan terhadap kerasulan Paulus (Gal 2:1-10). Ia diduga baru bertobat pada saat Yesus menampakkan diri kepada-Nya (1Kor 15:7). Satu diantara lima[1] kemungkinan nama Yakobus yang disebutkan dalam Perjanjian Baru.  Yang ditulis pada kurun wakatu antara tahun 70-130 AD. Waktu inipun bukan merupakan waktu yang pasti karena informasi dalam karya kuno sendiri tidak menyajikan data yang pasti mengenai waktu penulisan kitab ini.[2] Namun, kitab ini sudah cukup terkenal pada abad II  atau kira-kira tahun 180 sehingga dikutip oleh Ireaneus dalam karyanya Against Heresies. Pada abad III oleh Origenes, hingga abad IV, Eusebius mengutip dan menerima Kitab Yakobus sebagai kitab kanonikal.[3] Banyak penulis yang dikatakan bahwa memberikan banyak waktu untuk membahas tahun penulisan kitab ini sehingga kita akan mendapat banyak kesimpulan yang tidak pasti. Apabila kita menyelaraskannya dengan keadaan yang digambarkan oleh Yakobus mengenai hal perbuatan baik, berarti kitab ini ditulis pada suatu waktu dimana ada kesulitan yang demikian besar sehingga orang-orang percaya dituntut untuk melakukan suatu tindakan kasih sebagai bukti iman mereka. Sekitar tahuan 46, terjadi bencana kelaparan di daerah Yudea dan sekitarnya sehingga dikatakan oleh Moo bahwa anya orang yang membutuhkan bantuan.[4] Selain itu, Davids mengatkan bahwa dalam latar belakang historis Surat Yakobus, sedikitnya ada lima perbedaan kasta[5] yang menyebabkan adanya gap sehingga kualitas kerohaniaan orang Kristen menjadi menurun.

    Dalam ayat 1, Yakobus mengatakan bahwa surat ini ditujukan kepada kepada kedua belas suku di perantauan. Pada umumnya mereka berada diperantauan karena akibat pembuangan[6] oleh Raja Babel dan juga adanya kemungkinan untuk tujuan perdagangan[7]. Dalam posisi seperti ini, mereka memerlukan penguatan dari saudara seiman. Mepertaruhkan iman  mereka di antara bangsa kafir[8] yang negerinya mereka diami.

    Surat ini dituliskan dengan tujuan untuk menguatkan mereka yang sementara mengalami pergumulan yang sedimikian berat dan bahkan di tengah-tengah keadaan yang demikian mereka diminta untuk bersukacita dengan terus menunjukan bukti iman mereka (1:2-4). Memberikan arah tuntunan praktis untuk orang-orang Yahudi Kristen di perantauan dapat menggunakannya sebagai pedoman praktis dalam menjalani hidup mereka.[9] Sekaligus menguatkan orang-orang Kristen Yahudi yang kebanyakan dari mereka berasal dari golongan bawah yang sedang mengalami penindasan oleh sesama orang Yahudi yang kaya.[10] Membangun semangat orang percaya Yahudi yang sedang menderita berbagai pencobaan yang menguji iman mereka, memperbaiki berbagai pengertian yang salah mengenai sifat iman yang      menyelamatkan, dan menasihatkan dan membina pembacanya mengenai hasil-hasil praktis iman mereka dalam hidup yang benar dan perbuatan yang baik.

    TEOLOGI YAKOBUS

    Dalam Surat Yakobus, banyak penafsir yang mengatakan bahwa kitab ini sama sekali tidak membicarakan hal-hal yang doktrinal termasuk Luther, terutama dalam masalah dialognya dengan Mater Heinrich mengenai keselamatan manusia yang hanya oleh iman (Sola Fidei) bukan karena perbuatan. Luther menggap bahwa Orang Katolik Roma telah salah menafsirkan Kitab Yakobus.[11] Karena memang terlihat bahwa Yakobus memang tidak membicarakan hal-hal doktrinal melainkan hal yang praktis.[12]

    Dalam suratnya yang dikatakan berisi hal-hal praktis tanpa konsep teologi ini memberikan sumbangsih yang menyeluruh mengenai hal-hal doktrinal sekalipun tidak lengkap. Ada berberapa catatan yang perlu diperhatikan dalam konsep doktrinal yang ada di dalam pikiran Yakobus seperti:

    1. Eskatologi  (1:12; 2:5; 5:7-9)
    2. Teologi penderitaan, (1:2-3)
    3. Tempat Ibadah (Sinagoge),
    4. Jabatan Gerejawi—penatua
    5. Dosa yang diakibatkan oleh diri sendiri dan campur tangan iblis
    6. Teologi penggembalaan—pelawatan, pengakuan dosa
    7. Iman dalam pemahaman ortodoks [13]

    Apabila kita melihat sebutan-sebutan yang digunakan oleh Yakobus terhadap Tuhan, menujukkan bahwa Yakobus memiliki pemahaman doktrinal yang benar tentang Tuhan. Mengenai konsep Tuhan, Yakobus dalam suratnya, ia menyebutkan nama Allah sebanyak 20 kali, Tuhan sebanyak 11 kali, sedangkan Yesus, hanya dua kali (1:1; 2:1). Dalam 2:1 ia menyebut dengan sebutan yang menunjukan sejauh mana pengenalan seseorang tentang ketuhanan terutama dalam menyebutkan nama Tuhan yaitu “Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia,….” berdasarkan aturan yang berlaku sebutan ini menunjukan pengenalan yang benar akan Tuhan. Ada sebutan lain yang menunjukan muatan teologi yang sangat ketat “Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan.” (4:12). Bagian ini menegaskan bahwa hanya Allah adalah Pembuat Hukum dan Hakim.[14] Jadi, orang yang melawan Pembuat Hukum, sudah sepaket di dalam melawan Hakim.

    Secara sepintas, terlihat bahwa Yakobus banyak membicarakan hal-hal mengenai eskatologis dan hal ini disajikan dengan cukup baik. Dan ada beberapa referensi sekilas yang menjelaskan bahwa eskatologi memaikan peran yang penting dalam pemikiran Yakobus.[15] Hal-hal yang dibicarakan oleh Yakobus berkenaan dengan eskatologi seperti pedatangan Tuhan (parusia) yang sudah dekat adalah pengaharapan yang senantiasa hidup. Hakim telah berdiri di ambang pintu, mahkota kemuliaan, keselamatan jiwa dari maut, dan pewarisan Kerajaan Allah.

    Mengenai penderitaan, pencobaan[16] dan dosa, Yakobus memberikan pemahaman yang berbeda dengan Rasul yang lain dan bahkan Paulus. Sekalipun ia hanya sediki membahas tentang hal-hal ini, namun konsep yang ia tanamkan lagi-lagi bersifat praktis dengan muatan teologi yang benar. Ia mengakatan bahwa pencobaan adalah sifat batin manusia.[17] Hawa nafsu merupakan respon dari dalam yang keluar sebagai keinginan yang menghasilkan dosa.[18] Dan iblis mengambil bagian dalam mengalihkan fokus manusi dari Tuhan kepada dia dan diri sendiri. Memberikan hikmat palsu yang mendatangkan kerugian besar.[19] Pertemuan manusia dengan dunia (Iblis) dalam pernbuatan menjadikan orang itu musuh Allah (4:4-5). Mengontrol lidah juga bagian dari doktrin manusia dan dosa yang sangat dekat hubungannya. Natur manusia yang berdosa menjadikan lidahnya sebagai sumber mata air yang menghasilkan dua jenis air yang seharusnya tidak mungkin. Memuji dan mengutuk Allah dan sesama.

    Untuk tidak menghakimi bahwa Yakobus bukanlah seorang teolog, kita kembali kepada jabatan Yakobus yang pada umumnya diakui bahwa yang memimpin gereja di Yerusalemlah yang menuliskan surat ini, ia memahami dengan benar akan konsep-konsep teologi yang benar sehingga sekalipun ia menuliskan suratnya untuk maksud dan tujuan yang praktis, ia memberikan konsep yang meyeluruh tentang pergumulan doktrinal dalam gereja dan pergumulannya termasuk di dalamnya mengenai pengajaran yang dibahas secara khusus mengenai jabatan sebagai guru (ps.3), Juga dalam pasal 4, ia berbicara mengenai kerukunan dalam gereja. Perkunjungan jemaat (ps. 5), pandangan terhadap second class dalam masyarakat (ps.2). Di sini menunjukan teologi penggembalaan yang dominan.[20]

    SOTEOROLOGI YAKOBUS

    Kembali kepada permasalahan yang menjadi kontroversial di dalam Surat Yakobus yang juga menimbulkan ketegangan dalam gereja pada masa menjelang era reformasi yaitu mengenai perbuatan manusia. Apakah yang dimaksudkan Yakobus dengan “Dapatkah iman itu menyelamatkan dia” dan bahwa perbuatan baik itu yang menyelamatkan dan bukan iman? Tidak banyak yang membahas bagian ini dengan baik dan kalupun ada, tidak memperikan hipotesa yang cukup jelas.  Iman menduduki kedudukan pertama dalam surat ini (1:2-4) yang berbicara tentang ujian terhadap iman dan menghasilkan buah-buah dalam kekristenan—hasil darikehidupan baru seperti kebenaran, tidak berdosa, saling mengasihi, dan mengalahkan dunia.[21] Sebagaimana dalam latar belakang dikemukakan bahwa tujuannya untuk memberikan petunjuk ke dalam cara hidup Kristen yang benar, sehingga bagian ini dapat direlasikan dengan baik untuk menemukan maksud Yakobus.[22]

    Dalam bagian  ini tidak untuk membandingkan konsep benar menurut Paulus dan Yakobus sebagaimana yang dilakukan  orang lain. Namun perlu adanya penjelasan singkat mengenai perbedaan penggunaan “dibenarkan oleh perbuatan” oleh keduanya.

    Perbedaan Paulus dan Yakobus[23]: Dibebanrkan karena perbuatan

    1. latar belakng keduannya berbeda,
    2. tujuan epistlenya berbeda,
    3. pembacanya berbeda,
    4. berita yang berbeda sekalipun menggunakan kata yang sama
    Pokok perbedaan Yakobus Paulus
    Latar belakang Orang biasa yang bertobat Ahli Taurat yang bertobat
    Pembaca Orang Yahudi Orang non-Yahudi
    Arti kata “dibenarkan”
    • dinaggap benar oleh Allah
    • Tidak ada unsur soterologi
    • (orang berdoas) Dibuat menjadi benar
    • Ada unsur soteorologi
    Arti kata “perbuatan” Untuk hal-hal yang berkaitan dengan belas kasihan Untuk hal-hal yang berkaitan dengan justification
    Arti kata “iman” Iman kepercayaan yang terwujud melalui perbuatan Kepasrahan karena ketidak mampuan

    Secara umum, dalam teologi Kristen, keselamatan diperoleh semata-mata hanya oleh kasih karunia Allah tanpa campur tangan manusia. Dalam hal inilah banyak tokoh reformator seperti Luther yang menentang konsep pemebenaran oleh karena berbuat baik.[24] Dari sinilah muncul istilah Solah Gracia dan diperoleh hanya dengan iman sebagai media bukan sebagai imbalan atau bahkan sebagai usaha manusia—Sola Fidei.

    Pikiran pertama Yakobus dalam bagian ini adalah keteguhan iman dibawah ujian. Tetapi keteguhan yang aktif dengan meberikan buah-buah iman yang membawa kepada kemenagan di dalam kasih Tuhan untuk memperoleh mahkota.[25] Hal ini memicu tema besar dalam suratnya; “iman yang dinyatakan melalui tingkah laku atau perbuatan.”[26] Ini  merupakan kunci untuk masuk dalam pikiran Yakobus.

    Dalam penekanannya yang berbeda (antara Yakobus dan Paulus) mengenai perbuatan baik di sini, Luther menyebutnya sebagai “surat yang penuh ilalang”.[27] Namun, perbedaan ini bukan halangan bagi suatu pengantar untuk menolong kita masuk ke dalam suatu pemahaman yang komprehensif dan keheren mengenai iman yang dikontribusikan oleh Yakobus. Yakobus sedikitnya memberikan sembilan pokok[28] yang berkaitan erat dengan iman;

    1. Iman yang hidup—nyata melalui perbuatan,
    2. Ketulusan iman—perbuatan yang tulus yang lahir dari iman,
    3. Iman yang aktif—melalui tindakan, bukan iman yang pasif.
    4. Iman yang teruji—iman yang melewati unjian,
    5. Iman Kristus—tertindas tetapi tetap teguh hingga akhir,
    6. Hukum iman—syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang menyatakan dirinya beriman,
    7. Iman yang berhasil—iman yang tidak bertumbuh dengan sia-sia melainkan memperoleh mahkota kemuliaan yang dijanjikan sebagai imbalan atas tindakan-tindakan iman,
    8. Praktek iman/iman yang hidup—iman tanpa perbuatan sama dengan tubuh tanpa roh; adalah mati.
    9. Tata susila iman—kebenaran merupakan dasar iman.

    Yakobus menekankan perbuatan dari orang percaya dalam relasinya dengan iman.[29] Bagian ini yang dianalogikan oleh Yakobus dengan tubuh tanpa roh adalah mati, iman tanpa perbuatan adalah iman yang mati. Jadi iman di sini bukan sekedar suatu kata benda yang aktif—faith that works. Sekuat apapun iman seseorang, tidak seorangpun yang mengetahuinya tanpa melalui perbuatan. Daun yang hijau dikatakan hidup apabila ia melekat pada pohonnya. Pekerjaan yang baik merupakan demonstrasi dari iman.[30] Hal senada dituliskan oleh James T. Draper kita mengatakan kita adalah orang beriman apabila kita menunjukannya melalui perbuatan-perbuatan kita. If we have faith without works, we do not have saving faith. If we shared our faith with those we belive are lost, our churches would be overflowing.[31] “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.”

    Sebagaimana tema besar yang dikenakan ke dalam Surat Yakobus adalah mengenai eskatologi, dalam pernyataan Yakobus terlihat bahwa ia melihat perbuatan baik dalam hubungannya dengan iman dari perspektive eskatologi di mana setiap orang percaya akan berada di depan Hakim pada hari penghakiman untuk mempertanggungjawabkan imannya di hadapan Tuhan. Dalam hal ini, Yakobus mengikuti pola pikir Yesus dalam Matius 25.[32] Kita melihat bahwa dengan perbuatan, seseorang dapat membuktikan kebenaran dan bukan hanya melalui iman.[33] Kenyataannya bahwa kekristenan harus mendemontrasikan iman kridtennya melalui perbuatannya. Ini adalah bagian yang esensial dari iman Kristen berdasarkan ajaran Perjanjian Baru. Seseorang memang tidak dapat diselamatkan oleh perbuatan baik tami sama arinya bahwa tidak ada orang yang diselamatkan tanpa melakukan perbuatan baik.[34]

    Jadi sebagaimana yang yang dikatakan oleh Elsa Tamez bahwa percaya (faith) tidak menujukkan kebenaran karena percaya memang perupakan hal yang bersifat pribadi, tetapi kita harus menujukkan kepada komunitas tentang iman kita melalui perbuatan baik kita— demonstration of integrity.[35] Iman bukanlah sekedar kemauan intelektual untuk dibenarkan tetapi iman yang mengahsikan buah melalui perbuatan baik. Iman menunjuk diri sendiri dalam perbuatan baik.[36]

    Kesimpulan

    Setelah melihat pergumulan Yakobus untuk menyajikan bagian ini kepada orang-orang percaya yang ada di perantauan, memberikan suatu penjelasan yang lengkap menyenai sejarah peyelamatan dan bagaimana mengidupi keselamatan yang telah diperoleh dengan cuma-cuma. Sekalipun perbuatan baik yang bukanlah hal yang utama dalam memperoleh keselamatan. Namun, iman tanpa perbuatan, sebagaimana yang dikatakan oleh Yakobus bahwa itu adalah iman yang kosong (2:20) dan iaman yang mati (2:26).

    Dari tulisan Yakobus, penulis dapat menggambarkan konsep yang keselamatan dalam diagram berikut:

    Iman semata-mata adalah anugerah yang Tuhan berikan ke dalam hati kita (semen Fidei) yang juga melibatkan intelektual, emosional, dan kemauan atau kehendak. Roh Kudus bekerja dalam hati kita untuk memberdayakan iman yang ada di dalam hati kita untuk percaya kepada Kristus. Mengisyafkan kita dari dosa, di bawa ke dalam kehidupan yang baru—kehidupan yang diselamatkan. Dalam kehidupan yang diselamatkan itu itu tentunya berkarya di di dalamnya. Karya itulah yang disebut dengan perbuatan baik (deeds/good works).

    Pada akhirnya, setiap orang percaya akan berdiri di hadapan Hakim yang Agung pada hari Penghakiman untuk mempertanggungjawabkan imannya. Pertanggungjawaban itu berdasakan buah-buah iman selama kita hidup sebagai orang percaya. Menunjukan identitas kita sebabgi orang percaya melalui demontrasi iman sebgaimana yang diteladankan Yesus. Itulah isi seluruh Alkitab. Berbicara mengenai keselamatan dengan memberikan berbagai “aturan dan hukum” untuk menjalani kehidupan kita sebagai orang percaya. Jadi, Alkitab berbicara juga mengenai tindakan iman orang percaya.

    Seseorang dapat dikatakan sebagai orang percaya yang sudah diselamatkan apabila ia memiliki iman kepada Yesus Kristus, iman itu menghasilkan perbuatan baik (buah Roh; Gal. 5: 22-23), dan akhirnya perbuatan baik itu menghasilkan suatu kebiasaan baru sebagai manusia baru hingga akhirnya keselamatan itu manjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna (2:22). Iman dan perbuatan baik adalah satu hal yang mutlak ada dalam kehidupan orang percaya, bukanlah hal yang paradoks dan juga bukan hubungan hierarki. Tetapi, harus dimengerti bahwa orang yang berbuat baik belum tentu adalah orang beriman, tetapi orang yang beriman harus dan  pasti berbuat baik.  Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati (2:26).

    Sumber Pustaka

    Adamson, James B., James: Man and His Message, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1989

    Barclay, William, Letters of James & Peter, Revised Edition, Philadelphia: The Westminster Press, 1976

    Berkhof, Louis, Teologi Sistematika: Doktrine Keselamatan, Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1997

    Chitwood, B.J., A Faith That Works, Nashville: Broadmen Press, 1969

    Davids, Peter H., James—New International Biblical Commentary, Massachusetts: Hendicson Publishers, 1983

    Doerksen, Vernon D., James, Chicago: Moody Press, 1983

    Enss, Paul, The Moody Hand Book Of Theology, terj. Rahmiati Tanudjaja, Malang: Literatur SAAT, 2006

    Ladd, George Eldon, Teologi Perjanjian BAru Jilid 2, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2002

    Moo, Douglas, The Latter Of Jame, Gran Rapids: Wm. B. Edmans, 2000

    Ryrie, Charles C., Teologi Dasar 2: Panduan Populer untuk Memahami Kebenaran Alkitab, Yogyakarta: Yayasan Andi, 1992

    Scaer, David P., James Apostle of Faith—Primary Christological Epistle for Persecuted Church, St. Louis: Concordia Publishing House, 1983

    Susanto, Hasan, Surat Yakobus, Malang: Literatur SAAT, 2006

    Tamez, Elsa, Scandalous of James—Faith Without Works is Dead, New York: Crossroad, 1989

    Vaughan, Curtis, James, Michigan: Zondervan Publishing House, 1986


    [1] 1) Yakobus anak Zebedius, saudara Yohanes yang menjadi murid Yesus (Mat 4:21-22; 10:2; Mr 3:17; Luk 5:1-10), 2) Yakobus yang juga murid Yesus, anak Alpheus(Mat 10:3,  Mr 3:18; Luk 6:15), 3), Yakobus, ayah Yudas, (Luk 6:16; Kis 1:13), 4) Yakobus, anak Maria yang terkecil atau Yakobus Muda (Mat. 27:56; Mr 15:40; 16:1; Luk 24:10), dan 5) Yakobus, saudara Yesus—disebut sebagai saudara tiri dari Yesus oleh Vernon. Lih. Vernon D. Doerksen, James, (Chicago: Moody Press, 1983), 7-8. Lihat juga Hasan Susanto, Surat Yakobus, (Malang: Literatur SAAT, 2006), Hal., 22

    [2] Lihat Footnote, Hasan Hal., 15

    [3] Hasan Susanto, Surat Yakobus, 2006, Hal.,

    [4] Ibid., Hal., 39, Lihat juga Douglas Moo, The Latter Of James, (Gran Rapids: Wm. B. Edmans, 2000), Hal., 25-26

    [5] 1) Para budak, 2) Petani dan tukang, 3) para pedagang, 4) orang kaya, 5) orang yang berkecukupan. Peter H. Davids, James—New International Biblical Commentary, (Massachusetts: Hendicson Publishers, 1983), Hal., 11-12

    [6] Pembuangan yang terjadi sekitar Tahun 597 SM yang akhirnya hanya sedikit dari bangsa Yahudi yang kembali ke Yerusalem. Beberapa saat sesudahnya Yerusalem dihancurkan (586) setelah raja Zedekia gagal memperjuangkan kemerdekaannya. Orang-orang lingkungan masyarakat yang lebih luas dari saat sebelumnya, dibawa ke pembuangan. Hanya mereka yang tidak memiliki sesuatupun diperbolehkan tinggal. Jumlah tawanan ada sekitar 15.000 orang laki-laki beserta keluarganya. Para buangan ditempatkan di sebuah daerah tertentu, sehingga mereka bisa tinggal bersama-sama di situ. Hal ini dilakukan agar terjadi kawin campur di antara orang Yahudi dengan bangsa lain seperti yang dilakukan oleh raja Asyur (734 SM).

    [7] Tersirat dalam 4:13 tentang mendapat untung yang pada umumnya dilakukan oleh para pedagang. Para pedagang inilah yang disebutkan sebagai orang kay ayang seharusnya memberikan bantuan kepada mereka yang miskin.

    [8] Berdasarkan pemahaman umun tentang Tuhan yang hanya menjadi miliki bangsa Yahudi dan bangsa yang lain manapun adalah bangsa kafir.

    [9] Curtis Vaughan, James, (Michigan: Zondervan Publishing House, 1986), Hal., 11

    [10] George Eldon Ladd, Teologi Perjanjian Baru Jilid 2, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2002), Hal., 339

    [11] Hasan Susanto, Hal., 67-68

    [12] Ladd, Teologi Perjanjian Baru, Hal., 339

    [13] Suatu pernyataan yang ketat dan bersifat ultimat bahwa iman tidaklah dikatakan iman jika tidak bertumbuh bersamaan dengan perbuatan adalam iman yang mati atau iman yang tandus dan tidak produktif. Veron Doerksen, James, Hal., 69

    [14] Hasan Susanto, Hal., 224

    [15] Ladd, Hal., 339

    [16] Allah tidak mencobai atau menggoda manusia, tetapi justeru melalui ujian, Allah memberkati manusia. Hasan Susanto, Hal., 194

    [17] Ladd., Hal., 401

    [18] Paul Enss, The Moody Hand Book Of Theology, terj. Rahmiati Tanudjaja, (Malang: Literatur SAAT, 2006), 119

    [19] Hasan Susanto, Hal., 223

    [20] Hipotesa penulis berdasarkan pengamatan yang menyeluruh terhadap Surat Yakobus dan terhadap beberapa commentary terhadap Surat Yakobus.

    [21] Charles C. Ryrie, Teologi Dasar 2: Panduan Populer untuk Memahami Kebenaran Alkitab,(Yogyakarta: Yayasan Andi, 1992), Hal., 86

    [22] D.E. Hiebert, dalam James B. Adamson, James: Man and His Message, (Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1989), Hal., 266

    [23] Lihat Moo, The Later of James, Hal., 133, lihat Juga Hasan Susanto, Surat Yakobus, Hal., 255-258. James Adamson bahkan mendedikasikan satu sus-bab khusus untuk membahas perpedaan Paulus dan Yakobus dalam bukunya, James B. Adamson, James: Man and His Message, Hal 195ff

    [24] Perbuatan baik dalam Konsep teologi Reformed merupakan suatu respon atas anugerah yang telah diperoleh dengan Cuma-Cuma sebagai ungkapan syukur bukan untuk membuat piutang seperti yang dipraktekkan oleh Katolik Roma dengan menjual surat dosa yang ditentang oleh Luther.

    [25] James B. Adamson, James: Man and His Message, (Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1989), Hal., 267

    [26] Segala tindakan dan kepedulian sebagai hal-hal praktek yang timbul dari iman. Ibid.

    [27] Paul Enns, Hal., 120

    [28] James Adamson, James, Hal., 267ff. Curtis menyebutnya sebagai karakter iman. Curtis Vaughan, James, Hal., 43ff.

    [29] Paul Enns, Hal., 120

    [30] B.J. Chitwood, A Faith That Works, (Nashville: Broadmen Press, 1969), Hal., 68

    [31] James T. Draper, Faith That Works—Studies in James, (Wheaton: Living, 1971), Hal., 89

    [32] David P. Scaer, James Apostle of Faith—Primary Christological Epistle for Persecuted Church, (St. Louis: Concordia Publishing House, 1983), Hal., 88

    [33] William Barclay, Letters of James & Peter, Revised Edition, (Philadelphia: The Westminster Press, 1976), Hal., 71

    [34] Ibid, Hal. 73-74

    [35] Elsa Tamez, Scandalous of James—Faith Without Works is Dead, (New York: Crossroad, 1989), Hal., 61

    [36] Louis Berkhof, Teologi Sistematika: Doktrine Keselamatan, (Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1997), Hal., 193

    Oct 25, 2010 - Theology    Comments Off

    Kontroversi Mengenai Nazar Yefta (Hakim-Hakim 11:29-40)

    Pendahuluan

    Sebagaimana kita ketahui tentang moralitas dan keadaan orang Kanaan sebelum Bangsa Israel merebutnya. Penyembahan terhadap banyak dewa, persembahan manusia kepada dewa, penyimpangan seksual yang dianggap sebagai penyembahan kepada dewa, dan lain sebagainya. Kondisi tersebut dengan mudah mempengaruhi moralitas bangsa Israel tatkala bangsa Israel tidak mengusir semua orang Kanaan dari negerinya. Kondisi ini bertmabah parah pada masa kevakuman di Israel. Di mana tidak ada raja yang memerintah bangasa Israel sehingga bangsa itu bertidak sesuai dengan pandangannya sendiri. (Hakim-hakim 17:6; 21:25  “Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri”).

    Pada masa itu, Yefta, orang Gilead, anak seorang perempuan sundal, pemimpin gerombolan perampok tinggal di daerah Tob (11:1-3), di seberang sungai Yordan. pada saat itu, ketika bani Amon[1] berperang melawan orang Israel, maka pergilah para tua-tua Gilead menjemput Yefta dan berkata kepadanya: “Mari, jadilah panglima kami dan biarlah kita berperang melawan bani Amon.” (11:5-6). Setelah melewati perdebatan dengan tua-tua Gilead, akhirnya Yefta ikut dengan mereka.

    Pada saat hendak berperang, Yefta beranzar kepada Tuhan, katanya: “Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu ke dalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintu rumahku …, itu akan menjadi kepunyaan TUHAN, dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran.” (11:30-31).

    Namun setelah Yefta menang dalam perang dan kembali, yang keluar pertama dari rumahnya adalah anak perempuan tunggalnya (11:34). Hal ini merupakan pertanyaan besar bagi para penafsir sehingga banyak kontroversi dalam menafsirkan bagian ini. Oleh sebab itu, dalam makalah ini, penulis mengutip pendapat dari beberapa penafsir yang bertantanga khususnya pada bagian ini (11:30-31, 34-40). Apakah Yefta benar-benar mempersembahkan anaknya sebagai korban bakaran atau tidak? Sejauh mana pendapat para penafsir dalam menjawab pertanyaan ini.

    Pendapat Penafsir

    1. Arthur Lewis[2]

    Lewis mengatakan bahwa dalam bagian ini, Yefta mencoba untuk menjadi hamba Allah Israel, tetapi tindakannya menyatakan campuran yang ekstrim antara kebenaran dan kesalahan. Dia gegabah dan seakan-akan bermain-main dengan nazar untuk mempersembahkan kepada Tuhan keluarga yang pertama kali keluar menemuinya. Bagaian ini dianggap fatal. Sekalipun ay. 29 mengatakan bahwa Roh Allah turun ke atasnya. Tetapi hanya konsep berhalalah[3] yang menganjurkan untuk mempersebahkan manusia untuk suatu kemenangan dan sebagai doa atau nazar pada akhirnya. Pasti dia salah menafsirkan hukum Musa terhadap persembahan anak (lih.Imamat 18:21; 20:2-5; Keluaran 12;29-31).

    Beberapa penafsir telah mencoba untuk mengubah kisah ini bahwa anak perempuannya hidup terus sebagai seorang perawan. Tetapi pada akhir kisahnya, jelas bahwa perbuatan yang menghebohkan ini tentu saja keluar setelah selesai dua bulan berakhir masa berkabung bagi anak perempuan Yefta yang telah kehilangan kaibuannya, maka Yefta melakukan apa yang menjadi nazarnya. Maka, generasi selanjutnya meratapinya setiap tahun sebagai seorang pahlawan perempun dari Gilead.

    2. C.J.Goslinga[4]

    Menurut C.S. Goslinga, Yefta mengucapkan nazarnya kepada Tuhan dengan kata-kata yang aneh. Dimana seekor bintang tidak mungkin keluar dari rumah. Dengan demikian ia menentukan seseorang bukan binatang dalam pikirannya, lagi pula Yefta dengan jelas berniat untuk memberikan persembahan yang luar biasa.

    Ketika anak perempuan tunggalnya, keluar menyambutnya dengan menari-nari dan memukul rebana, Tiba-tiba Yefta teringat akan nazarnya dan dalam dukacita yang besar, ia berteriak, “Ah, anakku, engkau membuat (secara literal, menhukumku) hatiku hancur luluh dan engkaulah yang mencelakakan aku.” Kewajiban tanpa syarat untuk memenuhi nazarnya menusuk hatinya, atas apa yang telah diucapkannya di hadapan Tuhan dan ia tidak akan mengingkari janjinya.

    Anak perempuannya merupakan contoh kerohanian yang tidak memperdulikan diri sendiri (penyangkalan diri) dan ketundukan, sekalipun ia akan menerima nasib naasnya atas nazar ayahnya, sesuatu yang harus ia bayar dengan air mata. Dengan demikian terjawab bahwa Yeftas tetap melakukan apa yang telah dijanjikannya.

    3. L.Thomas Holdcroft[5]

    Yefta membuat nazar sebelum berangkat untuk bertempur dengan bani Amon (30-31). Dalam perang itu, Yefta diberi kemenangan yang melimpah sehingga dua puluh kota bani Amon jatuh ke dalam tangannya dan musuh sama sekali ditaklukkan. Ia kembali untuk memenuhi nazarnya. Yefat kaget ketika makhluk pertama yang menyongsong dia adalah anak perempuannya yang tunggal. Sesudah terjadi penundaan selama dua bulan, dan dengan merasa sangat menyesal, Yefta “melakukan kepadanya apa yang telah dinazarkannya itu” (11:39).

    Seandainya Yefat membunuh anak perempuannya sebagai korban bakaran kepada Yahwe, maka ia sebenarnya melakukan kejahatan sambil mengangan-angankan bahwa ia harus setia memenuhi nazarnya. Seandainya ia hanya menyuruh anaknya untuk terus mempersembahkan kegadisannya, maka dalam bahasa dan pengertian yang terkandung dalam ayat-ayat ini tampaknya berlebihan. Douglas mengatakan:

    Pendapat yang lazim dala Gereja Kristen ialah bahwa memang bernazar untuk mengorbankan kepada Yahwe apa saja yang pertama-tama keluar dari rumahnya. Ia memberi keleluasan kepada Tuhan untuk menetukan apakah yang pertama keluar itu sebaiknya seekor binatang atau anak perempuannya. Memang ia berharap bahwa yang muncul bukanlah anaknya, namun bila itu yang terjadi maka ia siap untuk mempersembahkannya menjadi persembahan (Douglas, op., cit., hal 63).

    Pandangan umum pada masa itu mengetujui adanya pengorbanan manusia, dan hal mengorbankan anak-anak kepada Molekh tampaknya senantiasa menjadi suatu godaan bagi bangsa Israel.

    Di lain pihak, perlu dipertimbangkan bahwa Yefta akan sama sedihnya bila melaksanakan ketetapan agar anaknya terus mempertahankan kegadisannya Maupun bila kehilangan anak perempuannya karena dalam kedua hal ini ia tidak akan memperoleh keturunan. Tidak ada satu ayatpun dalam Alkitab yang secara pasti mengatakan bahwa ia mengorbankan anaknya dengan cara membunuhnya, dan dua kali disebutkan dalam Alkitab tentang ratapan atas kegadisan anak perempuan itu. Tidak semua juru-tafsir yang dogmatis seperti Douglas yang mengatakan, “Hanyalah peneyerahan seumur hidup dari anaknya yang tunggal pada pelayanan Yahwe yang dapat menjelaskan makna dalam pasal itu.” Tampaknya akan lebih sesuai dengan panadangan Alkitab yang secara harafiah bahwa Yefta benar-benar mempersembahkan anak perempuannya sebagai koraban manusia, tetapi orang-orang Kristen Perjanjian Baru lebih tertarik pada pandangan bahwa ia hanya menyerahkan anaknya tetap hidup sebagi seorang perawan.

    4. L.Terry Brensinger[6]

    Yefta dengan kemenangan yang luar biasa yang telah ia peroleh, ia pulang ke rumahnya dan harus menerima konsekuensi yang kejam dan keras. Sekalipun pendapat penafsir yang lain mengatakan bahwa Yefta tidak mempersembahkan anaknya sebagai korban bakaran tetapi mempersembahkannya untuk bekerja di kuil-kuil terdekat dengan tanpa menikah. Jadi anak perempuan Yefta menghabiskan masa hidupnya di kuil. Ini merupakan suatu kondisi dimana ia kehilangan nasib baiknya, bukan karena setia. Siknifikasinya bahwa wanita-wanita yang berkabung terhadap anak perempuan Yefta semata-mata untuk turut merasakan kemalangannya. Ketika setiap wanita yang tidak memiliki keturunan, dia akan berbagi dengan teman-temannya.

    5. Robert G Boling[7]

    Penfsir yang satu ini sendiri bingung. Pada ayat 39, dia memberikan komentar bahwa anak perempuan Yefta tidak berhubungan seksual dengan seorang laki-laki seumur hidupnya. Berarti bahwa ia hanya menghususkan dirinya bagi Tuhan. Tapi dia juga mengomentari bahwa jika ia tidak mati, mengapa perempuan-perempuan meratapinya setiap tahun sebagai suatu adat istiadat.

    Penafsir menyejajarkan peristiwa ini dengan Abraham ketika hendak mempersembahkan Ishak dan Yefta merupakan orang kedua yang melakukan persembahan anak. Yefta mengucapkan nazarnya setelah Roh Allah turun atas dia oleh sebab itu dia yakin bahwa Tuhan yang harus memelihara. Namun pada saat anak permapuan Yefta menemuinya, Roh Allah tidak datang lagi untuk menguatkan Yefta. Masalahnya ialah bahwa nazarnya tidak bisa dibatalkan.

    6. Matthew Handry[8]

    Yefta benazar dengan gelap dan samar-samar. Dengan demikian Roh Allah turun atas dia, namun untuk memberikan kemengan, bukan untuk mengispirasikan Yefta dalam bernazar. Sehingga ia sangat terkejut ketika yang menemuinya adalah anak perempuan tunggalnya sendiri.

    Sekalipun demikian, Mathew Handry sendiri memberikan dua kometar yang berbeda; yaitu bahwa apabila ia mempersembahkan anaknya sebagai pekerja di kuil, mengapa setiap tahun perempuan-perempaun Israel harus meratapi kematiannya? Jika ia mempersebahkannya sebagai korban bakaran, maka ia melanggar hukum Tuhan. Namun pada akhirnya ia menetapkan pendiriannya bahwa Yefta melakukan apa yang telah dinazarkannya—mempersembahkan anaknya sebagai korban bakaran.

    7. J. Vernin McGee[9]

    Verne dengan sangat yakin mengatakan bahwa Yefta membiarkan anaknya tidak menikah. Ia mengabdikan dirinya kepada Tuhan. Mengenai adat istiadat di ay.40 itu hanya sebuah perayaan. Setiap tahun selama 4 hari anak perempuan Yefta mengingatkan akan suatu cara yang khusus. Dia menyerahkan dirinya secara total untuk melayani Tuhan. Tidak ada indikasi bahwa Yefta mempersembahkan anaknya sebagai korban bakaran. Bahkan ia mengatakan bahwa Allah sendiri tidak mengijinkannya untuk mempersembahkan anaknya sebagi korban bakaran sekalipun sebuah nazar bukanlah sesuatu guyonan atau permainan kata-kata yang kosong.

    8. Dan G. Kent[10]

    Ia mengomentari bahwa anak perempuan Yefta menghargai apa yang telah dinazarkan ayahnya dan menyarankan ayahnya untuk melakukannya. Setelah itu dia meminta waktu dua bulan untuk meratapi kenyataan bahaw ia akan meninggal tannpa menikah dan keturunan. Jadi intinya bahwa Yefta tetap mempersembahkan anak perempuan tunggalnya sebagai korban bakaran kepada Tuhan.

    9. Jhn T. Willis[11]

    Disini penulis menemmukan komentar yang berbeda dari penafsir lainnya. John Willis menuliskan bahwa Yefta berharap sebagaimana Abraham ketika hendak mempersebahkan Ishak, Allah menyediakan binatan lain sebagai pengganti namun Yefta tidak menemukan pengganti anaknya. Yefat sangat sedih tapi ia tidak bisa kelaur dari nazarnya. Ia harus menerima konsekuensi dari nazarnya yang tidak hati-hati. Namun pada waktu yang sama, anak perempuannya sangat berani dan penuh penangkalan diri. Dia meminta kepada ayahnya untuk memberinya waktu dua bulan untuk menangisi kematiannya yang tanpa keturunan, kemudian ia akan mempersembahkan dirinya sendiri sebagai korban bakaran kepada Tuhan.

    10. John J. Davis[12]

    John Davis sendiri memberikan dua pertimbangan tanpa kesimpulan tentang bagian ini. Yaitu  bahwa apabila Yefta memilih untuk mempersembahkan anaknya untuk melayani di Tabernakel dari pada mempersembahkannya sebagai korban. Yefta tidak membunuh anaknya atas beberapa pertimbangan:

    1. Yefta mengerti dengan baik bahwa penghukuman Tuhan terhadap persembahan manusia.
    2. Dia tahu bahwa yang keluar dari rumahnya adalah seorang anggota keluarganya,
    3. Yefta adalah orang yang baik. Jika tidak, maka namanya tidak akan disebutkan sebagai pahlawan iman dalam Ibrani 11.
    4. Jika anaknya dibunuh, maka tidak aka nada penjelasan bahwa dia perawan,
    5. Yefta tidak membuat nazar itu sebelum Roh Tuhan turun ke atasnya.

    Namun, jika Yefta hanya mempersembahkan anaknya sebagai pelayan di Tabernakel, maka ia tidak harus tidak menikah karena seperti Debora dan Huldah. Mereka adalah nabi tapi mereka menikah. Tidak hukum yang mengharuskan bahwa perempuan yang bekerja di Tabernakel harus perawan.

    Pertimbangan kedua adalah bahwa jika Yefta membunuh anaknya sebagai korban bakaran kepada Tuhan, itu atas beberapa alasan:

    1. Yefta menyejajarkan kata “korban bakaran” dengan kata yang digunakan Hanna untuk mempersembahkan Samuel.
    2. Yefta adalah anak pelacur yang bergaul dengan banyak orang di seberang Yordan, jadi ada kemungkinan ia terpengaruh oelh kebiasaan bangsa lain.
    3. Berkenaan dengan tidak adanya raja di Israel dan Yefta adalah seorang hakim, maka ia bertindak sesuai dengan apa yang bai menurutnya sebagaiman yang dilakukan juga oleh Godeon dengan baju efodnya.
    4. Karena Yefta telah memimpin pembantaian terhadap 42.000 orang dari suku Efraim, maka itu sangat mungkin untuk menggenapi nazarnya.
    5. Kenyataan bahwa anaknya meratapi kegadisannya karena ia menghadapi kematian yang akan menimpanya.

    Dari semua bukti tersebut di atas, maka kelihatannya sudut pandang kedua lebih baik meskipun tidak menarik. Dia bahkan mengakhirinya dengan pertanyaan: “Jika Yefta mempersembahkan korban manusia, akankan Allah menghargai nazar itu?

    Kesimpulan

    Setelah melihat pendapat dari penafsir-penafsir di atas terbukti tidak ada yang memberikan komentar dengan alas an yang pasti bahwa ia yakin akan apa yang ditulisnya. Namun dengan demikian kita dapat mengetahui bahwa memang sampai dengan saat ini bagian ini masih merupakan kontroversi dengan berbagai pertimbangan.

    Namun, walaupun denmikia, ada beberapa pelajaran yang kita dapatkan dari kisah ini secara khusus mengajarkan kepada kita sebagai hamba Tuhan bahwa;

    a)   kita harus menyadari sepenuhnya apa yang berkenan kepada Tuhan dan apa yang merupakan keangkuhan kita.

    b)  Hendaklah ucapan syukur kita merupakan sesuatu yang terbaik dan yang dikehendaki Allah.

    c)   Harus berhati-hati dalam bernazar kepada Tuhan. Jangan melakukan sesuatu yang berresiko dengan tergesa-gesa—sadar  dan datang dari hati yang bersyukur.

    Sebagai seorang anak,

    d)  Kita harus menghormati orang tua meskipun mereka jahat dan kasar. Terutama dalam hal-hal yang berkenaan dengan Tuhan.

    e)   Mempunyai penyangkalan diri yang baik untuk melakukan hal-hal yang menyenagkan hati Tuhan dan sesuai dengan perintahNya.

    Daftar Pustaka

    Boling, Robert G., Judges—Anchor Bible, Garden City : Doubleday & Company, 1975.

    Brensinger, L.Terry, Judges:BCB Commentary, Ontario:Herald Press, 1999.

    Davis, John J., Conquest and Crisis, Winona Lake: BMH Books, 1970

    Douglas, J.D., Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid 1:A-L, cetakan ke-10, Jakarta:YKBK, 2008.

    Goslinga, C.J., Bible Students Commentary: Joshua, Judges, Ruth, translated by Ray Togtman, USA:Regency Reference Library, 1988.

    Henry, Matthew, Commentary on the Whole Bible (1708)

    Holdcroft, L.Thomas, Kitab-Kitab Sejarah, Malang:Gandum Mas, 1996

    Kent G. Dan, Layment’s Bible Book Commentary: Joshua, Judges, Ruth, Vol.4 Nashville:Brosdman Press, 1980.

    Lewis,  Arthur, Judges, Ruth, Chicago—USA : The Moody Press, 1987.

    McGee, J.Vernon, Joshua and Judges, Califonia:El Camino Press La Verne, 1976.

    Willis, T. John, The Message of O.T. History, Vol. II, Texas:Biblical Research Press, 1977.


    [1] bani Amon adalah keturunan Aram yang tinggal di dekat Sungai Yabok, sebelah timur Yordan. dalam beberapa sumber, menyebutkan bahwaBen-Ammi dan Lot adalah nenek moyang mereka.

    [2] Lewis,  Arthur, Judges, Ruth, (Chicago—USA : The Moody Press, 1987) Hal. 65-68

    [3] Bagian ini dapat dihubungkan dengan kebiasaan orang Kanaan yang mempersembahkan manusia sebagai korban kepada Baal. Sekalipun secara arkeologi belum dapat dipastikan. (Douglas, J.D., EAMK, cetakan ke-10, (Jakarta:YKBK, 2008) Hal. 503).

    [4] Goslinga, C.J., Bible Students Commentary: Joshua, Judges, Ruth, translated by Ray Togtman, (USA:Regency Reference Library, 1988) pgs. 388-396.

    [5] Holdcroft, L.Thomas, Kitab-Kitab Sejarah, Malang:Gandum Mas, 1996. Hal. 45-46

    [6] Brensinger, L.Terry, Judges:BCB Commentary, (Ontario:Herald Press, 1999) Hal. 134-136

    [7] Boling, Robert G., Judges—Anchor Bible, (Garden City : Doubleday & Company, 1975) Pgs. 206-210

    [8] Henry, Matthew, Commentary on the Whole Bible (1708)

    [9] McGee, J.Vernon, Joshua and Judges, (Califonia:El Camino Press La Verne, 1976) Hal. 175-182

    [10] Kent G. Dan, Layment’s Bible Book Commentary: Joshua, Judges, Ruth, Vol.4 (Nashville:Brosdman Press, 1980) Hal. 120-121

    [11] Willis, T. John, The Message of O.T. History, Vol. II, (Texas:Biblical Research Press, 1977) Hal. 78-79.

    [12] Davis, John J., Conquest and Crisis, (Winona Lake: BMH Books, 1970) Hal. 124-128.

    Pages:12»